SAINS HIDROLOGI DALAM AL-QUR'AN: ANALISIS SIKLUS AIR DAN MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR BERKELANJUTAN
Kata Kunci:
Eco-Hydrology Qurani, Siklus Hidrologi, Manajemen Air Berkelanjutan, Fiqh al-Bi'ahAbstrak
Krisis air global di era kontemporer terus memburuk akibat perubahan iklim antropogenik dan kegagalan manajemen tata kelola air modern. Pendekatan sekuler-teknokratis yang dominan cenderung memandang air murni sebagai komoditas ekonomi tanpa batasan etis dan mengabaikan dimensi spiritual manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemetaan sains Al-Qur'an mengenai siklus hidrologi secara tekstual-kontekstual serta mengekstraksi nilai ekologi Qurani menjadi formulasi manajemen sumber daya air berkelanjutan. Penelitian kualitatif kepustakaan (library research) ini menggunakan metode Tafsir Maudhu'i (Tematik). Klaster ayat-ayat hidrologi (seperti QS. Al-Hijr: 22, QS. Ar-Rum: 48, QS. Al-Mu'minun: 18, dan QS. Az-Zumar: 21) dianalisis melalui kitab tafsir otoritatif (Tafsir 'Ilmi Kemenag RI, Tafsir Al-Mizan, dan Tafsir Al-Misbah) , lalu disintesiskan secara interdisipliner dengan data sains hidrologi modern. Analisis isi menunjukkan Al-Qur'an menyajikan deskripsi siklus air yang komprehensif dan mendahului sains Barat, terutama pada aspek infiltrasi air tanah yang mendahului teori Bernard Palissy. Integrasi nilai ekologi Qurani ini menghasilkan kerangka kerja Model Eco-Hydrology Qurani yang mengintegrasikan teknologi modern (pemanenan air hujan, restorasi air tanah, desalinasi) dengan pendekatan moral keagamaan berdasarkan tiga pilar utama: Konservasi Fisik (Mīzān), Keadilan Sosial-Distributif (Kepemilikan Publik), dan Etika Konsumsi Moderat (Anti-Isrāf dan Tabżīr). Al-Qur'an tidak hanya menyediakan validasi saintifik terhadap hidrologi tetapi juga menawarkan tuntunan etis prospektif. Mitigasi krisis air global menuntut transformasi radikal hubungan manusia dengan air—dari sekadar objek eksploitasi ekonomi menjadi amanah suci dan mitra kehidupan.
