DEKONSTRUKSI ETIKA DIGITAL: ANALISIS KONTEN KONSEP TABAYYUN DALAM AL-QUR'AN SEBAGAI SOLUSI FENOMENA POST-TRUTH DI MEDIA SOSIAL
Kata Kunci:
Etika Digital, Tabayyun, Ayat Qaulan, Post-Truth, Media Sosial.Abstrak
Fenomena post-truth di media sosial telah melahirkan budaya share first, think later dan polarisasi informasi. Pendekatan legal-formal dan literasi digital sekuler yang ada saat ini dinilai kurang efektif karena hanya bersifat teknis-prosedural tanpa menyentuh kesadaran moral-spiritual pengguna. Penelitian ini bertujuan menyusun kerangka kerja etika digital Qurani (Quranic Cyber-Ethics Framework) yang aplikatif untuk memitigasi disinformasi digital. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik Analisis Isi Konseptual (Conceptual Content Analysis). Data primer bersumber dari teks tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6; QS. An-Nur: 11-16) dan enam kategori ayat qaulan (sadīdan, balīghan, ma'rūfan, karīman, layyinan, maysūran) yang dianalisis melalui kitab tafsir otoritatif. Konsep tabayyun memuat tiga dimensi semantik: kejelasan, verifikasi, dan eksplanasi. Enam variasi qaulan teridentifikasi sebagai antitesis langsung terhadap berbagai patologi digital kontemporer (hoaks, clickbait, cyberbullying, provokasi, intimidasi, dan konten menyesatkan). Integrasi prinsip-prinsip ini menghasilkan Model Cyber-Tabayyun yang distrukturkan ke dalam tiga tahapan sirkulasi informasi: Etika Akses (Input), Etika Pemrosesan (Internal/Self-Tabayyun), dan Etika Produksi/Distribusi (Output). Al-Qur'an menyediakan instrumen etika komunikasi yang adaptif untuk meredam kekacauan informasi. Mitigasi disinformasi harus bertumpu pada transformasi kesadaran spiritual-moralitas pengguna, bukan sekadar literasi teknis semata.
Keywords: Etika Digital, Tabayyun, Ayat Qaulan, Post-Truth, Media Sosial.
